Masalah pengangguran di indonesia seakan akan terus membengkak tak kunjung mengecil. terus dan terus bertambah angka pengangguran di indonesia. Lowongan pekerjaan menjadi sesuatu yang sangat langka, tetapi ironisnya beberapa perusahaan bila butuh SDA malah diisi oleh tenaga kerja asing dan kian hari kian bertambah. Hingga Februari 2011, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 8,12 juta orang. Jumlah ini menurun 470 ribu orang dibandingkan Februari 2010 yang sebanyak 8,59 juta orang.
Banyak jenis pengangguran yang muncul didalam perekonomian Indonesia, namun secara umum pengangguran akan lebih banyak memberi dampak yang kurang baik bagi kegiatan ekonomi Negara. Pengangguran akan menyebabkan perekonomian berada kondisi dibawah kapasitas penuh, suatu kapasitas yang diharapkan. Pengangguran juga akan menyebabkan angkatan kerja yang benar-benar produktif menjadi semakin berat, disamping secara sosial pengangguran akan menimbulkan kecenderungan masalah-masalah kriminalitas dan masalah sosial lainnya.
II. TEORI
Pengangguran adalah seseorang yang tergolong angkatan kerja dan ingin mendapat pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Masalah pengangguran yang menyebabkan tingkat pendapatan nasional dan tingkat kemakmuran masyarakat tidak mencapai potensi maksimal yaitu masalah pokok makro ekonomi yang paling utama.
Pengangguran sering diartikan sebagai angkatan kerja yang belum bekerja atau tidak bekerja secara optimal. Berdasarkan pengertian diatas, maka pengangguran dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
1. Pengangguran Terselubung (Disguissed Unemployment) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena suatu alasan tertentu.
2. Setengah Menganggur (Under Unemployment) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan, biasanya tenaga kerja setengah menganggur ini merupakan tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu.
3. Pengangguran Terbuka (Open Unemployment) adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Pengganguran jenis ini cukup banyak karena memang belum mendapat pekerjaan padahal telah berusaha secara maksimal.
Macam-macam pengangguran berdasarkan penyebab terjadinya dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu :
a. Pengangguran konjungtural (Cycle Unemployment) adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan gelombang (naik-turunnya) kehidupan perekonomian/siklus ekonomi.
b. Pengangguran struktural (Struktural Unemployment) adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan struktur ekonomi dan corak ekonomi dalam jangka panjang. Pengangguran struktuiral bisa diakibatkan oleh beberapa kemungkinan, seperti :
c. Pengangguran friksional (Frictional Unemployment) adalah pengangguran yang muncul akibat adanya ketidaksesuaian antara pemberi kerja dan pencari kerja. Pengangguran ini sering disebut pengangguran sukarela.
d. Pengangguran musiman adalah pengangguran yang muncul akibat pergantian musim misalnya pergantian musim tanam ke musim panen.
e. Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang terjadi akibat perubahan atau penggantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin-mesin.
f. Pengangguran siklus adalah pengangguran yang diakibatkan oleh menurunnya kegiatan perekonomian (karena terjadi resesi). Pengangguran siklus disebabkan oleh kurangnya permintaan masyarakat (aggrerat demand).
g. Pengangguran siklikal adalah pengangguran yang terjadi karena terjadinya pengurangan tenaga kerja yang secara menyeluruh, dikarenakan kemunduran dan resesi ekonomi. Sehingga ini mirip dengan pengangguran structural, hanya pada pengangguran jenis ini, kejadiannya adalah lebih meluas dan menyeluruh.
h. Pengangguran tidak kentara adalah pengangguran yang secara fisik dan sepintas tidak kelihatan, namun secara ekinomi dapat dibuktikan bahwa seseorang tersebut sesungguhnya menganggur.
Selain istilah diatas, ada beberapa rasio yang berkaitan dengan pengangguran. Rasio – rasio tersebut diantaranya :
1. Dependency ratio, rasio ini menggambarkan tentang seberapa besar beban secara ekonomi yang sebenarnya ditanggung oleh penduduk usia kerja terhadap penduduk diluar usia kerja. Formulasinya dapat dilihat pada lampiran.
2. Tingkat partidipasi angkatan kerja adalah, rasio yang mengukur seberapa besar dari penduduk yang berada dalam usia kerja yang benar-benar merupakan angkatan kerja.
Secara umum tidak ada satupun Negara yang berhasil membebaskan negaranya 100% dari pengangguran. Namun demikian jika suatu Negara dapat menyisakan pengangguran tersebut hanya untuk mereka yangmemang terpaksa tidak atau belum bekerja ( karena manula, cacat, dan sedang belajar) hal ini sudah dapat dikatakan Negara tersebut telah berada dalam kondisi yang ‘’full employment’’ atau tingkat pengangguran tenaga kerja penuh.
Di Indonesia sendiri pemerintah terus berupaya mengatasi pengangguran ini, karena pemerintah dan masyarakat menyadari bahwa pengangguran akan memiliki dampak negative yang lebih besar. Beberapa langkah dan kebijaksanaan pemerintah yang pernah, sedang dan akan dilakukan diantaranya adalah :
· Yang paling mendasar adalah denag mengatasi masalah kependudukan, yakni dengan mencoba mengendalikan pertumbuhan produk, karena didasari bahwa pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat akan memicu munculnya pengangguran dimasa yang akan datang, jika diimbangi dengan peningkatan kegiatan produksi.
· Dengan tidak melupakan prinsip APBN, akan menambah sector pengeluaran, baik itu pengeluaran pemerintah maupun pengeluaran dari sektor investasi swasta guna mendukung terciptanya peningkatan kegiatan ekonomi yang diharapkan dapat membuka peluang dan kesempatan kerja yang lebih banyak.
· Dipihak lain dengan memberikan dan mengarahkan pendidikan sumberdaya kearah yang lebih mendesak, dengan memperbanyak pusat-pusat pelatihan kerja, serta dengan memberi kemudahan bagi pengelolahan sekolah-sekolah kejuruan. Harapannya agar kemampuan tenagakerja Indonesia menjadi lebih siap dalam menyambut tantangan dunia kerja.
· Usaha lainnya adalah dengan mencoba membuka kesempatan dan lapangan kerja didaerah-daerah yang selama ini kurang berkembang kegiatan ekonominya. Sehingga proses pemerataan kesempatan kerja menjadi lebih terjamin keberhasilannya, selain mengurangi kosentrasi tenaga kerja dipulau jawa.
· Tidak lupa disektor luar negri, mulai digalakkannya ekspor jasa berupa tenaga kerja yang dikirim keluar negeri, meskipun untuk langkah terakhir ini masih memerlukan usaha yang lebih keras dari semua pihak, agar kepentingan dan nasib pekerja yang bekerja diluar negeri lebih baik.
III. PEMBAHASAN
Faktor yang menyebabkan terjadinya pengangguran bisa di pengaruhi dari luar (eksternal) juga di pengaruhi faktor internal individu orang yang bersangkutan.
Ada 3 hal yang secara eksternal menjadi penyebab kesulitan mendapatkan pekerjaan :
- Krisis ekonomi yang berpengaruh pada macetnya perusahaan menjalankan bisnis.
Contoh pada saat Indonesia mengalami krisis moneter besar-besaran tahun 1998, banyak perusahhaan yang melakukan PHK besar-besaran akibatnya banyak yang menganggur pada usia muda.
- Dunia pendidikan yang tidak link dan match dengan dunia kerja.
Contoh : dijaman sekarang rata-rata perusahaan menggharuskan lulusan yang minimal S1, itulah yang membuat lulusan SMA atau bahkan dibawahnya, yang tidak memiliki biaya untuk melanjutkan study membuatnya susah untuk mendapatkan pekerjaan.
- Rendahnya mibilitas masyarakat (tidak mau bermigrasi/hijrah)
Contoh : Banyak isu yang beranggapan jika menjadi
Sendangkan faktor internalnya dari diri orang yang bersangkutannya merupakan penyebab sulitnya mendapatkan pekerjaan atau berusaha. Bahkan seringkali faktor internal ini menjadi penyebab terbesar yang mendorong seseorang sulit mendapatkan kesempatan bekerja/berusaha. Faktor internal pun dapat menjadi penghambat seseorang untuk maju.
Faktor internal terbesar yang mempersulit seseorang mendapatkan pekerjaan yang layak, ada penyebabnya, antara lain : tidak mempunyai need of achievement (kebutuhan akan prestasi) dan tidak mempunyai keterampilan yang cukup.
Faktor internal yang paling terburuknya adalah orang yang malas untuk bekerja hanya ingin meminta dari orang lain, dan sangat disayangkannya diIndonesia banyak sekali kasus seperti ini.
Untuk itu, untuk meraih sukses maka setiap individu mau tidak mau harus melakukan upaya transformasi keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif melalui peningkatan produktivitas. Untuk mencapai hal itu pun di perlukan pribadi-pribadi yang berwawasan luas, terampil, disiplin, sanggup menghasilkan karya karya terbaik dan berdaya saing.
Perlu juga di tingkatkan kecerdasan baik kecerdasan akademik, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Sehingga di mungkinkan dapat mengelola waktu dengan efektif, menumbuhkan percaya diri dan mampu mengatisipasi berbagai hambatan yang mungkin di hadapi.
IV. REFERENSI
1. BUKU PEREKONOMIAN EKONOMI – SILABUS